Cari Blog Ini

Mukoddimah

Bismillahirrohmaninnrohim...

Kamis, 18 Februari 2010

Cicaheum, our first step in Bandung

Bus ekonomi Sahabat jurusan Cirebon-Bandung itu melaju dengan kencangnya. Lyra, Aira dan Nea duduk satu bangku di bangku ke tiga dari belakang lajur kanan. Sementara Idham, duduk di bangku depan mereka. Dimas duduk sendirian di bangju lajur kiri tepat di seberang Gahara yang juga duduk sendirian di bangku lajur kanan di depan Idham duduk. Bus melaju. Sampai di Palimanan, bus itu berhenti. Ngetem. Cukup lama.Banyak penumpang yang naik.
"Eh, aku pindah aja ya duduknya, sempit." Nea bergeser dan duduk di seberang Idham. Tinggallah Aira dan Lyra.
Bus kembali melaju. Bentangan alam pegunungan sepanjang perjalanan ke Bandung, begitu mempesona.
Jreeng...
Bus sudah sampai di Sumedang, nyaris mendekati Cadas Pangeran ketika seorang pengamen memetik gitar kecilnya. Menghadirkan Live music dalam bus yang melaju pasti.

Hayang kawin win win win...
Hayang kawin...
Hayang kawin win win win...
Hayang kawin...


Pengamen itu menyanyikan lagu dalam bahasa Sunda. Meski tak begitu paham, tapi Aira dan Lyra mengerti inti lagunya. Lyra dan Aira tertawa geli mendengar lagu itu. Lagu yang mengisahkan seorang anak manusia yang ingin segera menikah, kebelet kawin lah, cuma sayang nggak ada yang mau. Wajah Aira yang putih, mendadak berubah menjadi merah. Pun Lyra, tak henti-hentinya mereka tertawa. Di antara 6 orang itu, hanya Aira dan Lyra yang ramai. Berkicau seperti burung. Tak mau diam. Idham dan Nea tertidur di tempatnya masing-masing. Gahara asik menikmati pemandangan, karena memang itulah kali keduanya ia menuju Bandung, yang mungkin masih asing tempak baginya pemandangan sekitar. Sementara Dimas, sibuk dengan dirinya yang mulai terserang mabuk darat karena jalanan yang menanjak.
Pengamen itu selesai mebawakan lagu andalannya "Hayang Kawin", lalu berganti lagu. Membawakan sebuah lagu yang bertemakan sejarah tentang Cadas Pangeran yang sedang mereka lalui.
Kembali, Lyra yang meskipun tidak mengerti benar arti lagu yang berbahasa Sunda itu, berkonsemtrasi penuh mendengarkan lantunan syair yang diperdengarkan pengamen itu. Lyra yang memang begitu tertarik dengan ilmu sejarah, mendengarkan lagu itu dengan seksama, berusaha memahami artinya. Lagu perjuangan yang menarik. Pikir Lyra. Dari pendengarannya, yang sedikit ia mengerti, ia tahu bahwa Cadas Pangeran itu dibangun pada masa kompeni, kerja Rodi, Herman Willem Daendels yang membangun jalan pos Anjer-Panaroekan. Di lagu itu diceritakan kekejaman Kompeni dan kepahlawanan Pangeran Kornel yang begitu berani membela rakyatnya yang tertindas.
Pengamen itu selesai bernyanyi. Lalu melancarkan aksinya, minta saweran. Lyra dan Aira merogoh kanton mereka masing-masing. Dan memberi pengamen itu.

Bakpia...Bakpia... Masih hangat....

Suara laki-laki terdengar menggema menawarkan dagangannya. Laki-laki itu membagikan satu persatu kue bakpia ke setiap penumpang.
"Riwuh euy..." Ucap Lyra karena barang mereka terlalu banyak. Ribet maksudnya.
Tepluk....
"Aduh, Ra.Bakpianya jatuh." Lyra bingung ketika bakpia yang tadi dibagikan itu jatuh ke kolong kursi di deoannya.
"Waduh" Aira tidak kalah bingungnya " Ly, orang yang jual itu bakpia dah deket," Aira panik ketika orang jual bakpia itu hampir mendekati mereka.
"Bentar, Ra" Lyra merunduk, tangannya menggapai-gapai bakpia di bawah kursi di depan Lyra duduk. "Susah, Ra" Lyra hampir menyerah.
"Ayo, Ly, berusha lagi. Bisa, pasti bisa" Aira memberi semangat.
"Bentar, coba lagi." Lyra berusaha menggapai bakpia itu, dan... Happ! "Alhamdulillah, dapet juga" Lyra lega, lalu bangkit ke tempat duduknya semula. Lyra melihat bungkusan bakpia itu. "Waduh, harus dibeli nih, Ra" Bungkusan itu kotor, mungkin tadi sempat terinjak oleh orang di depan Lyra.
"Ya udah, dibeli aja"
Pedagang bakpia itu menuju tempat Aira dan Lyra duduk. "Mang, berapa?"
"Dua ribu, neng" Lyra lalu mengeluarkan dua lembar uang seribuan.
"Makasih, Neng" pedagang bakpia itu pergi.
"Huh..." Aira lega, masalah terselesaikan. Lyra tersenyum, dia menertawakan dirinya sendiri yang karena kecerobohannya dia harus membeli bakpia yang awalnya emang nggak niat untuk dibeli. Aira membaca mata Lyra, dan seolah mengerti maksudnya, Aira pun ikut tertawa. Tawa kedua sahabat itu pun kembali menggema.
Bus sahabat itu terus melaju.
"Caheum... caheum... Caheum..." Sang kernet bus berteriak memberitahukan lokasi mereka sekarang. Terminal Cicaheum, pintu masuk Bnadung. Sebentar lagi turun. Pikir Idham yang kemudian berdiri. Diikuti Lyra, Aira, Nea, gahara dan terakhir Dimas yang mukanya sudah pias karena menahan muntahnya.
"Welcome to Paris van Java," Idham berteriak begitu menginjakkan kaki pertamanya ke bumi Parahyangan itu.
"And... Cicaheum, our first step in Bandung, Right?" Sambung Lyra. Senyumnya mengembang.
Matahari Bandung terasa begitu hangat, tak seterik sebelumnya, siang hampir berlalu.
Lyra menengok jam di tangannya, "sholat duhur dulu yu, masih ada waktu." Lyra berjalan mnuju mushollah yang terletak di pojokan terminal, dekat pintu masuk samping kanan diikuti Idham, Gahara, dan teman-teman lainnya. Nea langsung pamit ke toilet yang terletak tidak jauh dari mushollah kecil itu, "Sorry, ga tahan nih."
Semua sibuk dengan barang bawaannya. Lyra melepas jam tangan Love dari pergelangan tangan kirinya. Dia tersenyum. "Ga, nitip dulu ya, aku mau ambil wudhu," Ucap Lyra lembut pada Gahara. Lyra sengaja menitipkan jam itu kepada Gahara karena ia ingin mengingatkan Gahara tentang jam pemberian Gahara itu di ulang tahun ke-17 Lyra, setahun yang lalu, di rumah Gahara. Para sahabat itu mengambil wudhu bergantian. Lalu masuk satu persatu ke dalam mushollah untuk melaksanakan sholat duhur.
Pukul 15.30, setelah semua selesai sholat, 6 sahabat itu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah teman paman Lyra yang letaknya tidak begitu jauh dari terminal.
"Jalan kaki aja ya, sayang kalo naek angkot." Lyra tersenyum penuh harap. Dari matanya, bisa terbaca apa yang Lyra pikirkan, Jangan naek angkot, kasihan Gahara, ongkosnya pas-pasan. Itu yang ada di benak Lyra. Anything for Gahara.
Mereka berjalan beriringan. Aira dan Lyra berada di depan, kemudian Idham dan Nea di belakang mereka dan yang paling belakang, tentu Gahara dan Dimas. Mereka melewati jembatan penyebrangan, lalu melewati trotoar yang berlubang-lubang.
"Aira, mau gue bawain nggak tasnya?" Tanya Gahara dengan kerlingan mata yang tak seperti biasanya. Lyra menatap Gahara. Ada yang beda.
"Nggak usah, Ga." Aira yang paham perasaan Lyra langsung menolak permintaan Gahara.
"Aku aja yang bawa." Ucap Lyra cepat-cepat, seakan tak rela Gahara perhatian kepada Aira.
"Ga, bawain tuh barangnya Lyra, kasian kan?" Idham yang tahu bagaimana perasaan Lyra, langsung menyuruh Gahara untuk mebawa barang Lyra.
"Nggak berat ko, Ham." Itulah Lyra, selalu ingin tampak bisa di depan Gahara. Tak ingin merepotkan Gahara, katanya.
"Iya Ly, gue bawain ya." Gahara memaksa.
"Yaudah deh, bawian mukenah aja ya." Lyra menyerahkan tas berisi mukenah yang ia bawa di tangannya. "Makasih, Ga." Gahara membalasnya dengan senyum yang begitu manis.
6 Sahabat itu terus melanjutkan perjalanannya.
Rumah sahabat paman Lyra yang berpagar biru sudah tampak. Bahkan Pak Sipat, sahabat paman Lyra itu, sudah terlihat di depan, sedang bersiap-siap pulang ke Ujung Berung dengan mobil tuanya.
Pak Sipat tersenyum menyambut kedatangan Lyra dan teman-temannya. Dipersilaknnya 6 sahabat itu masuk. Tempat yang seperti dulu Lyra tempati, kamar tempat penyimpanan kaos. Biarpun sempit, tapi setidaknya masih layak untuk dihuni. Pak Sipat pamit pulang. Lyra, Aira, dan Nea langsung bersiap untuk mandi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Bismillahirrohmanirrohimmm