Bus ekonomi Sahabat jurusan Cirebon-Bandung itu melaju dengan kencangnya. Lyra, Aira dan Nea duduk satu bangku di bangku ke tiga dari belakang lajur kanan. Sementara Idham, duduk di bangku depan mereka. Dimas duduk sendirian di bangju lajur kiri tepat di seberang Gahara yang juga duduk sendirian di bangku lajur kanan di depan Idham duduk. Bus melaju. Sampai di Palimanan, bus itu berhenti. Ngetem. Cukup lama.Banyak penumpang yang naik.
"Eh, aku pindah aja ya duduknya, sempit." Nea bergeser dan duduk di seberang Idham. Tinggallah Aira dan Lyra.
Bus kembali melaju. Bentangan alam pegunungan sepanjang perjalanan ke Bandung, begitu mempesona.
Jreeng...
Bus sudah sampai di Sumedang, nyaris mendekati Cadas Pangeran ketika seorang pengamen memetik gitar kecilnya. Menghadirkan Live music dalam bus yang melaju pasti.
Hayang kawin win win win...
Hayang kawin...
Hayang kawin win win win...
Hayang kawin...
Pengamen itu menyanyikan lagu dalam bahasa Sunda. Meski tak begitu paham, tapi Aira dan Lyra mengerti inti lagunya. Lyra dan Aira tertawa geli mendengar lagu itu. Lagu yang mengisahkan seorang anak manusia yang ingin segera menikah, kebelet kawin lah, cuma sayang nggak ada yang mau. Wajah Aira yang putih, mendadak berubah menjadi merah. Pun Lyra, tak henti-hentinya mereka tertawa. Di antara 6 orang itu, hanya Aira dan Lyra yang ramai. Berkicau seperti burung. Tak mau diam. Idham dan Nea tertidur di tempatnya masing-masing. Gahara asik menikmati pemandangan, karena memang itulah kali keduanya ia menuju Bandung, yang mungkin masih asing tempak baginya pemandangan sekitar. Sementara Dimas, sibuk dengan dirinya yang mulai terserang mabuk darat karena jalanan yang menanjak.
Pengamen itu selesai mebawakan lagu andalannya "Hayang Kawin", lalu berganti lagu. Membawakan sebuah lagu yang bertemakan sejarah tentang Cadas Pangeran yang sedang mereka lalui.
Kembali, Lyra yang meskipun tidak mengerti benar arti lagu yang berbahasa Sunda itu, berkonsemtrasi penuh mendengarkan lantunan syair yang diperdengarkan pengamen itu. Lyra yang memang begitu tertarik dengan ilmu sejarah, mendengarkan lagu itu dengan seksama, berusaha memahami artinya. Lagu perjuangan yang menarik. Pikir Lyra. Dari pendengarannya, yang sedikit ia mengerti, ia tahu bahwa Cadas Pangeran itu dibangun pada masa kompeni, kerja Rodi, Herman Willem Daendels yang membangun jalan pos Anjer-Panaroekan. Di lagu itu diceritakan kekejaman Kompeni dan kepahlawanan Pangeran Kornel yang begitu berani membela rakyatnya yang tertindas.
Pengamen itu selesai bernyanyi. Lalu melancarkan aksinya, minta saweran. Lyra dan Aira merogoh kanton mereka masing-masing. Dan memberi pengamen itu.
Bakpia...Bakpia... Masih hangat....
Suara laki-laki terdengar menggema menawarkan dagangannya. Laki-laki itu membagikan satu persatu kue bakpia ke setiap penumpang.
"Riwuh euy..." Ucap Lyra karena barang mereka terlalu banyak. Ribet maksudnya.
Tepluk....
"Aduh, Ra.Bakpianya jatuh." Lyra bingung ketika bakpia yang tadi dibagikan itu jatuh ke kolong kursi di deoannya.
"Waduh" Aira tidak kalah bingungnya " Ly, orang yang jual itu bakpia dah deket," Aira panik ketika orang jual bakpia itu hampir mendekati mereka.
"Bentar, Ra" Lyra merunduk, tangannya menggapai-gapai bakpia di bawah kursi di depan Lyra duduk. "Susah, Ra" Lyra hampir menyerah.
"Ayo, Ly, berusha lagi. Bisa, pasti bisa" Aira memberi semangat.
"Bentar, coba lagi." Lyra berusaha menggapai bakpia itu, dan... Happ! "Alhamdulillah, dapet juga" Lyra lega, lalu bangkit ke tempat duduknya semula. Lyra melihat bungkusan bakpia itu. "Waduh, harus dibeli nih, Ra" Bungkusan itu kotor, mungkin tadi sempat terinjak oleh orang di depan Lyra.
"Ya udah, dibeli aja"
Pedagang bakpia itu menuju tempat Aira dan Lyra duduk. "Mang, berapa?"
"Dua ribu, neng" Lyra lalu mengeluarkan dua lembar uang seribuan.
"Makasih, Neng" pedagang bakpia itu pergi.
"Huh..." Aira lega, masalah terselesaikan. Lyra tersenyum, dia menertawakan dirinya sendiri yang karena kecerobohannya dia harus membeli bakpia yang awalnya emang nggak niat untuk dibeli. Aira membaca mata Lyra, dan seolah mengerti maksudnya, Aira pun ikut tertawa. Tawa kedua sahabat itu pun kembali menggema.
Bus sahabat itu terus melaju.
"Caheum... caheum... Caheum..." Sang kernet bus berteriak memberitahukan lokasi mereka sekarang. Terminal Cicaheum, pintu masuk Bnadung. Sebentar lagi turun. Pikir Idham yang kemudian berdiri. Diikuti Lyra, Aira, Nea, gahara dan terakhir Dimas yang mukanya sudah pias karena menahan muntahnya.
"Welcome to Paris van Java," Idham berteriak begitu menginjakkan kaki pertamanya ke bumi Parahyangan itu.
"And... Cicaheum, our first step in Bandung, Right?" Sambung Lyra. Senyumnya mengembang.
Matahari Bandung terasa begitu hangat, tak seterik sebelumnya, siang hampir berlalu.
Lyra menengok jam di tangannya, "sholat duhur dulu yu, masih ada waktu." Lyra berjalan mnuju mushollah yang terletak di pojokan terminal, dekat pintu masuk samping kanan diikuti Idham, Gahara, dan teman-teman lainnya. Nea langsung pamit ke toilet yang terletak tidak jauh dari mushollah kecil itu, "Sorry, ga tahan nih."
Semua sibuk dengan barang bawaannya. Lyra melepas jam tangan Love dari pergelangan tangan kirinya. Dia tersenyum. "Ga, nitip dulu ya, aku mau ambil wudhu," Ucap Lyra lembut pada Gahara. Lyra sengaja menitipkan jam itu kepada Gahara karena ia ingin mengingatkan Gahara tentang jam pemberian Gahara itu di ulang tahun ke-17 Lyra, setahun yang lalu, di rumah Gahara. Para sahabat itu mengambil wudhu bergantian. Lalu masuk satu persatu ke dalam mushollah untuk melaksanakan sholat duhur.
Pukul 15.30, setelah semua selesai sholat, 6 sahabat itu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah teman paman Lyra yang letaknya tidak begitu jauh dari terminal.
"Jalan kaki aja ya, sayang kalo naek angkot." Lyra tersenyum penuh harap. Dari matanya, bisa terbaca apa yang Lyra pikirkan, Jangan naek angkot, kasihan Gahara, ongkosnya pas-pasan. Itu yang ada di benak Lyra. Anything for Gahara.
Mereka berjalan beriringan. Aira dan Lyra berada di depan, kemudian Idham dan Nea di belakang mereka dan yang paling belakang, tentu Gahara dan Dimas. Mereka melewati jembatan penyebrangan, lalu melewati trotoar yang berlubang-lubang.
"Aira, mau gue bawain nggak tasnya?" Tanya Gahara dengan kerlingan mata yang tak seperti biasanya. Lyra menatap Gahara. Ada yang beda.
"Nggak usah, Ga." Aira yang paham perasaan Lyra langsung menolak permintaan Gahara.
"Aku aja yang bawa." Ucap Lyra cepat-cepat, seakan tak rela Gahara perhatian kepada Aira.
"Ga, bawain tuh barangnya Lyra, kasian kan?" Idham yang tahu bagaimana perasaan Lyra, langsung menyuruh Gahara untuk mebawa barang Lyra.
"Nggak berat ko, Ham." Itulah Lyra, selalu ingin tampak bisa di depan Gahara. Tak ingin merepotkan Gahara, katanya.
"Iya Ly, gue bawain ya." Gahara memaksa.
"Yaudah deh, bawian mukenah aja ya." Lyra menyerahkan tas berisi mukenah yang ia bawa di tangannya. "Makasih, Ga." Gahara membalasnya dengan senyum yang begitu manis.
6 Sahabat itu terus melanjutkan perjalanannya.
Rumah sahabat paman Lyra yang berpagar biru sudah tampak. Bahkan Pak Sipat, sahabat paman Lyra itu, sudah terlihat di depan, sedang bersiap-siap pulang ke Ujung Berung dengan mobil tuanya.
Pak Sipat tersenyum menyambut kedatangan Lyra dan teman-temannya. Dipersilaknnya 6 sahabat itu masuk. Tempat yang seperti dulu Lyra tempati, kamar tempat penyimpanan kaos. Biarpun sempit, tapi setidaknya masih layak untuk dihuni. Pak Sipat pamit pulang. Lyra, Aira, dan Nea langsung bersiap untuk mandi.
Cari Blog Ini
Mukoddimah
Bismillahirrohmaninnrohim...
Kamis, 18 Februari 2010
Kamis, 26 November 2009
Paris Van Java in Love (6 calon Pegawai PLN)
Pagi ini terasa begitu indah. Matahari bersinar begitu cerahnya. Tak seperti biasanya, pagi ini Lyra bangun lebih awal. sejak pukul 6 pagi tadi, Lyra sudah bersiap dengan tas besarnya yang terisi penuh dengan baju-baju. Hari ini, seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Lyra bersama teman-temannya, Nea, Aira, Idham dan Gahara, pergi ke Bandung untuk mengikuti tes tahap II penerimaan pegawai PLN setelah sebelumnya mereka dinyatakan lulus dalam tes tahap I. Mereka berjanji berkumpul di pasar dekat rumah Lyra tepat pukul 9 pagi. Dengan baju dan jilbab yang serba pink, Lyra berangkat dengan penuh keceriaan ke tempat yang telah dijanjikan. Belum ada yang datang waktu Lyra sampai. Dengan penuh rasa sabar, dia menunggu kedatangan teman-temannya itu.
"Hai, Ra. Sorry telat. Udah lama?", sapa seorang teman Lyra, Idham dari arah belakang Lyra. Idham datang tepat 5 menit kemudian.
"Aku baru datang. Yang lain mana?"
"Nggak tahu. Mungkin lagi pada OTW",kata Idham yang terlihat begitu keren dengan kaos warna ungu dipadu dengan jaket warna putih.
"Hai... Hai... Hai..." Teriak Nea yang masih ada di boncengan motor kepada kedua temannya. Nea datang dengan diantar oleh ayah tercintanya.
Lyra dan Idham membalas dengan senyum. Nea turun dari motornya lalu menghampiri kedua temannya. "Udah lama tah nunggunya?" kata Nea dengan bahasa Indonesia campur Cirebonnya sambil terus membereskan rambutnya yang diikat.
"Baru ko", jawab Lyra singkat "Eh, Nea, kemalin ini Idham, temannya Gahara yang sering aku ceritain" kata Lyra lagi.
"Oh... Kamu bareng sama Gahara, Ly?" Nea terkejut mendengar ucapan Lyra. Setahu Nea, Gahara itu adalah First Love Lyra yang sering Lyra banggakan di depannya dan semua temnnya di SMK.
Lyra hanya mengangguk. "Terus Gaharanya mana?" Tanya Nea lagi.
"Belum dateng, namanya juga BJ, Beli Jelas pasti ngaret." Lyra jadi ngomel sendiri.
"Eh, iya, katanya Dimas mau bareng. Boleh nggak?" Tanya Idham
"Dimas? yang temen kamu itu tah? yang orangnya item itu?" Lyra balik tanya.
"Iya..iya..bener. Tahu sih, Ly?" Ucap Idham semangat.
"Iya waktu lihat pengumuman sama Gahara kemarin, Dimas dateng terus dengan muka agak bloonnya dia bilang bisa cariin namanya nggak soalnya dia nggak bisa ngoperasiin internet. Gitu."
Nea tertawa, dia pikir rasanya sangat lucu, ko bisa ada siswa STM Negeri 1 yang orang bilang RSBI dan langganana juara LKS tingkat propinsi tidak bisa mengoperasikan internet.
Lyra tersenyum begitu melihat seseorang yang ia tunggu datang dengan dibonceng naik sepeda oleh bapaknya.
"Eh, sory, Gue telat", cowok itu menghampiri Lyra, Nea dan Idham.
"Nggak apa-apa, Ga. Belum pada datang ko", Lyra tersenyum lagi.
"Nunggu siapa lagi?" Ucapnya sambil tersenyum, mempesona. Kulitnya yang putih makin putih dengan balutan sweater hitam, senyumnya terus mengembang.
"Aira masih di jalan sama Dimas juga kata IDham, dia mau berangkat bareng" Jelas Lyra.
"Oh... " Gahara berbalik arah, menghampiri bapaknya -Pak Dirman- yang masih setia menunggui anak lelaki kebanggaannya itu. " Bapak,pulang dulu aja, Aga masih nungguin temen."
"Kamu nggak apa-apa Bapak tinggal pulang,cung?"Pak Dirman berkata lembut. Cung, itu panggilan sayang untuk anak laki-laki di Cirebon, dari kata Kacung, tapi bukan berarti pembantu. Itulah Bahasa Cirebon. "Yo wis, Cung, Bapak balik yo" Pak Dirman berbalik arah, lalu dengan kuatnya kembali mengayuh sepeda Forevernya menuju ke rumahnya> Home sweet home.
Lyra tersenyum kagum melihat Gahara. Dia, laki-laki yang tadi pamit sama bapaknya, itu memang mengagumkan. Rela menunda melanjutkan sekolah ke SMA selama 1 tahun dan bekerja menjadi buruh rotan hanya untuk menabung uang, agar ia tidak merepotkan orang tuanya yang juga bekerja sebagai buruh rotan untuk membiayai sekolahnya, terlebih lagi, adik Gahara banyak, dan yang paling besar, Andini -yang juga sahabat Lyra- melanjutkan sekolahnya ke SMP waktu itu. Kini, lelaki muda itu ada di hadapannya, akan melakukan perjalanan jauh bersama. Ke Bandung.
Gahara kembali menghampiri teman-temannya. Dia tersenyum penuh arti kepada Lyra. Senyum siap tempur demi mendapatkan tiket menjadi pegawai PLN, seperti cita-citanya.
"Oh iya, Aga" Lyra memanggil Gahara dengan sebutan nama kecilnya, Aga "Ini kenalin, temen aku, Nea"
"Hai Gahara..." Nea tersenyum girang.
Drrttt... Drrrttt.... Hape Lyra bergetar, ada sms masuk rupanya. Dari Aira.
Lyra langsung memalingkan pandangannya dari hape, dia melihat ke seliling. Sesaat kemudian, senyumnya mengembang, tangannya melambai ke arah seberang, Aira datang dengan sweater warna merahnya. Aira berlari kecil menghampiri sahabat-sahabatnya.
"Hai... lama ya? Maaf." Aira tertawa, "Ly, ini siapa?" Aira menunjuk Idham dan Gahara.
"Oh, yang baju ungu itu Idham, yang putih itu Gahara"
"Hai semuanya" sapa Aira.
Waktu makin terus berputar, jam di tangan Lyra sudah menunjukkan pukul 10.30. Meleset 1 jam 30 menit. Benar-benar khas orang Indonesia.
"Udah, ke pinggir jalan aja dulu. Nungguin bis sekalian nunggu Dimas juga." Ajak Lyra.
Mereka semua menuju penggir jalan.Tak lama setelah itu, Dimas datang, disusul dengan bis ekonomi Sahabat jurusan Cirebon-Bandung.
"Hai, Ra. Sorry telat. Udah lama?", sapa seorang teman Lyra, Idham dari arah belakang Lyra. Idham datang tepat 5 menit kemudian.
"Aku baru datang. Yang lain mana?"
"Nggak tahu. Mungkin lagi pada OTW",kata Idham yang terlihat begitu keren dengan kaos warna ungu dipadu dengan jaket warna putih.
"Hai... Hai... Hai..." Teriak Nea yang masih ada di boncengan motor kepada kedua temannya. Nea datang dengan diantar oleh ayah tercintanya.
Lyra dan Idham membalas dengan senyum. Nea turun dari motornya lalu menghampiri kedua temannya. "Udah lama tah nunggunya?" kata Nea dengan bahasa Indonesia campur Cirebonnya sambil terus membereskan rambutnya yang diikat.
"Baru ko", jawab Lyra singkat "Eh, Nea, kemalin ini Idham, temannya Gahara yang sering aku ceritain" kata Lyra lagi.
"Oh... Kamu bareng sama Gahara, Ly?" Nea terkejut mendengar ucapan Lyra. Setahu Nea, Gahara itu adalah First Love Lyra yang sering Lyra banggakan di depannya dan semua temnnya di SMK.
Lyra hanya mengangguk. "Terus Gaharanya mana?" Tanya Nea lagi.
"Belum dateng, namanya juga BJ, Beli Jelas pasti ngaret." Lyra jadi ngomel sendiri.
"Eh, iya, katanya Dimas mau bareng. Boleh nggak?" Tanya Idham
"Dimas? yang temen kamu itu tah? yang orangnya item itu?" Lyra balik tanya.
"Iya..iya..bener. Tahu sih, Ly?" Ucap Idham semangat.
"Iya waktu lihat pengumuman sama Gahara kemarin, Dimas dateng terus dengan muka agak bloonnya dia bilang bisa cariin namanya nggak soalnya dia nggak bisa ngoperasiin internet. Gitu."
Nea tertawa, dia pikir rasanya sangat lucu, ko bisa ada siswa STM Negeri 1 yang orang bilang RSBI dan langganana juara LKS tingkat propinsi tidak bisa mengoperasikan internet.
Lyra tersenyum begitu melihat seseorang yang ia tunggu datang dengan dibonceng naik sepeda oleh bapaknya.
"Eh, sory, Gue telat", cowok itu menghampiri Lyra, Nea dan Idham.
"Nggak apa-apa, Ga. Belum pada datang ko", Lyra tersenyum lagi.
"Nunggu siapa lagi?" Ucapnya sambil tersenyum, mempesona. Kulitnya yang putih makin putih dengan balutan sweater hitam, senyumnya terus mengembang.
"Aira masih di jalan sama Dimas juga kata IDham, dia mau berangkat bareng" Jelas Lyra.
"Oh... " Gahara berbalik arah, menghampiri bapaknya -Pak Dirman- yang masih setia menunggui anak lelaki kebanggaannya itu. " Bapak,pulang dulu aja, Aga masih nungguin temen."
"Kamu nggak apa-apa Bapak tinggal pulang,cung?"Pak Dirman berkata lembut. Cung, itu panggilan sayang untuk anak laki-laki di Cirebon, dari kata Kacung, tapi bukan berarti pembantu. Itulah Bahasa Cirebon. "Yo wis, Cung, Bapak balik yo" Pak Dirman berbalik arah, lalu dengan kuatnya kembali mengayuh sepeda Forevernya menuju ke rumahnya> Home sweet home.
Lyra tersenyum kagum melihat Gahara. Dia, laki-laki yang tadi pamit sama bapaknya, itu memang mengagumkan. Rela menunda melanjutkan sekolah ke SMA selama 1 tahun dan bekerja menjadi buruh rotan hanya untuk menabung uang, agar ia tidak merepotkan orang tuanya yang juga bekerja sebagai buruh rotan untuk membiayai sekolahnya, terlebih lagi, adik Gahara banyak, dan yang paling besar, Andini -yang juga sahabat Lyra- melanjutkan sekolahnya ke SMP waktu itu. Kini, lelaki muda itu ada di hadapannya, akan melakukan perjalanan jauh bersama. Ke Bandung.
Gahara kembali menghampiri teman-temannya. Dia tersenyum penuh arti kepada Lyra. Senyum siap tempur demi mendapatkan tiket menjadi pegawai PLN, seperti cita-citanya.
"Oh iya, Aga" Lyra memanggil Gahara dengan sebutan nama kecilnya, Aga "Ini kenalin, temen aku, Nea"
"Hai Gahara..." Nea tersenyum girang.
Drrttt... Drrrttt.... Hape Lyra bergetar, ada sms masuk rupanya. Dari Aira.
Lyra langsung memalingkan pandangannya dari hape, dia melihat ke seliling. Sesaat kemudian, senyumnya mengembang, tangannya melambai ke arah seberang, Aira datang dengan sweater warna merahnya. Aira berlari kecil menghampiri sahabat-sahabatnya.
"Hai... lama ya? Maaf." Aira tertawa, "Ly, ini siapa?" Aira menunjuk Idham dan Gahara.
"Oh, yang baju ungu itu Idham, yang putih itu Gahara"
"Hai semuanya" sapa Aira.
Waktu makin terus berputar, jam di tangan Lyra sudah menunjukkan pukul 10.30. Meleset 1 jam 30 menit. Benar-benar khas orang Indonesia.
"Udah, ke pinggir jalan aja dulu. Nungguin bis sekalian nunggu Dimas juga." Ajak Lyra.
Mereka semua menuju penggir jalan.Tak lama setelah itu, Dimas datang, disusul dengan bis ekonomi Sahabat jurusan Cirebon-Bandung.
Minggu, 12 Juli 2009
Playgirl
Matahari senja yang begitu indah, membuat langit sore berubah menjadi merah yang begitu bersahaja. Sore ini seperti biasanya, Cinta bertandang ke rumah Allah yang sudah begitu akrab dengannya. Al-Ikhlas, itu nama mushollah kecil yang menyimpan banyak kenangan di hati Cinta. Tentang persahabatannya, tentang cerita indahnya, tentang semua yang pernah ia rasa.
Hari ini, adalah hari bersejarah untuk Cinta, hari spesial untuk seorang Cinta. Hari ini, dia resmi lulus dari SMK. Tapi, hari ini juga, Cinta melakukan sesuatu yang mungkin sangat dibenci orang. Cinta minta putus dengan pacarnya, Irul. Irul bukan laki-laki pertama yang Cinta putuskan, dia adalah yang ke-5.
Dalam sejarahnya, Cinta tidak pernah pacaran dengan waktu yang lama. Pacar pertamanya, Danar, hanya bertahan sampai 2 minggu. Bukan tanpa alasan, semuanya itu karena Cinta bosan dengan Danar yang telah membohonginya secara besar-besaran. Danar yang jelas-jelas umurnya 12 tahun di atas Cinta, mengaku kalau dia baru berumur 20 tahun. Danar, yang ternyata adalah teman SD bibi Cinta, yang jelas-jelas SD aja tidak tahu tamat atau tidak, yang pernah tidak naik kelas 3 kali, mengaku sedang kuliah di STSI bandung. Ditambah lagi ulah Danar yang kecentilan, mebuat Cinta dan orang tua Cinta jadi tidak suka.
Berbeda dengan Aldi, pacar kedua Cinta. Meskipun lama jadiannya sama dengan pacar pertama Cinta, tapi alsan putusnya beda. Waktu itu, tanggal 31 Maret, saat ada pengajian di masjid baitul muttaqin, Aldi memutuskan Cinta. Semuanya itu, karena Aldi jatuh cinta dengan Bunga, sahabat dekat Cinta di Al-Ikhlas. Akhirnya, kejadian itu sempat membuat CInta tidak percaya lagi dengan kata"cinta".
Dua bulan berlalu, hati Cinta mulai terbuka. Dia sudah memaafkan Aldi dan Bunga. Kini hatinya mulai terisi oleh seorang laki-laki yang dikenalnya dari dunia maya. Sany namanya. Laki-laki itu begitu tulus mencintai Cinta, tapi tidak dengan Cinta. Dua setengah bulan kemudian, mereka putus yang menyisakan luka di hati Sany. Bagaimana tidak, ternyata selama mereka berpacaran, Cinta membohongi perasaan Sany, bahkan perasaannya sendiri. Ternyata Cinta masih mencintai Syaeful, seorang laki-laki yang ia temukan di Al-Ikhlas, 5 tahun yang lalu. Rasa cinta muncul, ketika Cinta mendengar alunan ayat Al-Quran yang dilantunkan dengan merdunya oleh Syaeful.
Satu bulan berselang, hati Cinta kembali terisi oleh seorang laki-laki asal Garut. Adi namanya, laki-laki yang bisa dibilang punya latar belakang yang jauh jika dibandingkan dengan Cinta. Adi yang punya kampung di kaki gunung, membuat dia tidak sempat melanjutkan sekolahnya sampai SMP, apalagi SMA. Sedangkan Cinta, sekarang dia sudah tamat SMK. Ditambah pekerjaan Adi yang cuma sebagai penjual Cuankie keliling. Perjalanan cinta antara Cinta dan Adi, sangat tidak mulus. Jarak yang begitu jauh memisahkan mereka, antara Cirebon dan Garut. Ditambah lagi, komunikasi yang sempat tertunda, membuat kesalahpahaman antara mereka. Adi mengira Cinta selingkuh, sehingga ia pun ikut selingkuh dengan tetangganya sendiri di Garut. Selama mereka jauh itu, sering ada teman-teman Adi yang menelepon Cinta dan mengjaknya kenalan lalu menjelekkan Adi. Mereka bilang kalau Adi ternyata menghamili pacarnya di Garut. Dengan amarah yang hampir tak tertahankan, Cinta menelepon Adi tepat setelah Cinta melaksanakan UN, saat usia pacaran mereka tepat 9 bulan. Inilah kisah perjalanan cinta dari seorang Cinta yang bisa dibilang paling lama bertahan. Bahkan mungkin cuma Adi yang bisa membuat Cinta sedikit melupakan Syaeful.
Satu minggu setelah Cinta putus dengan Adi, Cinta kembali menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri, Irul, yang baru ia putuskan hari ini, tepat saat pengumuman kelulusannya dari SMK. Ini juga karena Cinta yang masih mengharapkan Syaeful yang entah akan berujung bahagia atau tidak.
Langit sudah menjadi sangat indah, bintang-bintang sudah bermunculan, berkerlip dengan begitu anggunnya. Adzan Isya telah berkumandang lama. Sholat berjamaah pun telah usai. Semua jamaah juga sudah pulang, musholah hampir sepi. Yang tertinggal di sana hanya Cinta dan teman-temannya, Bunga, Kasih, Ifah, Syaeful dan Purwadi.
Menurut Purwadi, hari ini Syaeful ingin menyampaikan sesuatu pada semuanya.Purwadi bilang, katanya Syaeful sedang jatuh cinta. Hati Cinta sedikit gusar, perasaannya mendadak tidak enak. Ternyata benar apa yang Cinta khawatirkan, Syaeful ternyata mencintai orang lain, bukan dirinya. Saat itu juga, Cinta pamit pulang, dia menangis sendirian di kamarnya. Betapa ia sadar bahwa apa yang ia harapkan ternyata tidak terkabul.
Hari ini, adalah hari bersejarah untuk Cinta, hari spesial untuk seorang Cinta. Hari ini, dia resmi lulus dari SMK. Tapi, hari ini juga, Cinta melakukan sesuatu yang mungkin sangat dibenci orang. Cinta minta putus dengan pacarnya, Irul. Irul bukan laki-laki pertama yang Cinta putuskan, dia adalah yang ke-5.
Dalam sejarahnya, Cinta tidak pernah pacaran dengan waktu yang lama. Pacar pertamanya, Danar, hanya bertahan sampai 2 minggu. Bukan tanpa alasan, semuanya itu karena Cinta bosan dengan Danar yang telah membohonginya secara besar-besaran. Danar yang jelas-jelas umurnya 12 tahun di atas Cinta, mengaku kalau dia baru berumur 20 tahun. Danar, yang ternyata adalah teman SD bibi Cinta, yang jelas-jelas SD aja tidak tahu tamat atau tidak, yang pernah tidak naik kelas 3 kali, mengaku sedang kuliah di STSI bandung. Ditambah lagi ulah Danar yang kecentilan, mebuat Cinta dan orang tua Cinta jadi tidak suka.
Berbeda dengan Aldi, pacar kedua Cinta. Meskipun lama jadiannya sama dengan pacar pertama Cinta, tapi alsan putusnya beda. Waktu itu, tanggal 31 Maret, saat ada pengajian di masjid baitul muttaqin, Aldi memutuskan Cinta. Semuanya itu, karena Aldi jatuh cinta dengan Bunga, sahabat dekat Cinta di Al-Ikhlas. Akhirnya, kejadian itu sempat membuat CInta tidak percaya lagi dengan kata"cinta".
Dua bulan berlalu, hati Cinta mulai terbuka. Dia sudah memaafkan Aldi dan Bunga. Kini hatinya mulai terisi oleh seorang laki-laki yang dikenalnya dari dunia maya. Sany namanya. Laki-laki itu begitu tulus mencintai Cinta, tapi tidak dengan Cinta. Dua setengah bulan kemudian, mereka putus yang menyisakan luka di hati Sany. Bagaimana tidak, ternyata selama mereka berpacaran, Cinta membohongi perasaan Sany, bahkan perasaannya sendiri. Ternyata Cinta masih mencintai Syaeful, seorang laki-laki yang ia temukan di Al-Ikhlas, 5 tahun yang lalu. Rasa cinta muncul, ketika Cinta mendengar alunan ayat Al-Quran yang dilantunkan dengan merdunya oleh Syaeful.
Satu bulan berselang, hati Cinta kembali terisi oleh seorang laki-laki asal Garut. Adi namanya, laki-laki yang bisa dibilang punya latar belakang yang jauh jika dibandingkan dengan Cinta. Adi yang punya kampung di kaki gunung, membuat dia tidak sempat melanjutkan sekolahnya sampai SMP, apalagi SMA. Sedangkan Cinta, sekarang dia sudah tamat SMK. Ditambah pekerjaan Adi yang cuma sebagai penjual Cuankie keliling. Perjalanan cinta antara Cinta dan Adi, sangat tidak mulus. Jarak yang begitu jauh memisahkan mereka, antara Cirebon dan Garut. Ditambah lagi, komunikasi yang sempat tertunda, membuat kesalahpahaman antara mereka. Adi mengira Cinta selingkuh, sehingga ia pun ikut selingkuh dengan tetangganya sendiri di Garut. Selama mereka jauh itu, sering ada teman-teman Adi yang menelepon Cinta dan mengjaknya kenalan lalu menjelekkan Adi. Mereka bilang kalau Adi ternyata menghamili pacarnya di Garut. Dengan amarah yang hampir tak tertahankan, Cinta menelepon Adi tepat setelah Cinta melaksanakan UN, saat usia pacaran mereka tepat 9 bulan. Inilah kisah perjalanan cinta dari seorang Cinta yang bisa dibilang paling lama bertahan. Bahkan mungkin cuma Adi yang bisa membuat Cinta sedikit melupakan Syaeful.
Satu minggu setelah Cinta putus dengan Adi, Cinta kembali menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri, Irul, yang baru ia putuskan hari ini, tepat saat pengumuman kelulusannya dari SMK. Ini juga karena Cinta yang masih mengharapkan Syaeful yang entah akan berujung bahagia atau tidak.
Langit sudah menjadi sangat indah, bintang-bintang sudah bermunculan, berkerlip dengan begitu anggunnya. Adzan Isya telah berkumandang lama. Sholat berjamaah pun telah usai. Semua jamaah juga sudah pulang, musholah hampir sepi. Yang tertinggal di sana hanya Cinta dan teman-temannya, Bunga, Kasih, Ifah, Syaeful dan Purwadi.
Menurut Purwadi, hari ini Syaeful ingin menyampaikan sesuatu pada semuanya.Purwadi bilang, katanya Syaeful sedang jatuh cinta. Hati Cinta sedikit gusar, perasaannya mendadak tidak enak. Ternyata benar apa yang Cinta khawatirkan, Syaeful ternyata mencintai orang lain, bukan dirinya. Saat itu juga, Cinta pamit pulang, dia menangis sendirian di kamarnya. Betapa ia sadar bahwa apa yang ia harapkan ternyata tidak terkabul.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Bismillahirrohmanirrohimmm